Senin, 22 Desember 2008

Ada Apa Dengan Ideologi Nasionalisme?


Oleh Ihsan Tandjung

Semenjak runtuhnya tatanan kenegaraan Islam alias Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924 atau 1342 Hijriyyah, maka dunia menyaksikan berdirinya berbagai Nation State atau Negara Kebangsaan. Bangsa-bangsa Muslim membangun negara di negerinya masing-masing dengan menjadikan nasionalisme sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Suatu perubahan yang sangat signifikan dan mendasar jika dibandingkan dengan tatanan kenegaraan sebelumnya dimana Khilafah Islamiyyah menjadi sebuah sistem yang mempersatukan segenap ummat Islam berdasarkan kesatuan aqidah Islamiyyah dan dengan sendirinya kesatuan fikrah Islamiyyah alias ideologi Islam.
Dalam tatanan kenegaraan Negara Kebangsaan faktor bangsa menjadi sebab persatuan dan kesatuan. Sedangkan dalam sistem Khilafah Islamiyyah faktor Islam sebagai keyakinan dan ideologi menjadi sebab persatuan dan kesatuan. Maka dengan sendirinya kita menyaksikan mengapa sejak munculnya berbagai Nation State di tengah kehidupan bernegara ummat Islam terjadilah degradasi penghayatan Islam sebagai ideologi dan peningkatan penghayatan ideologi kebangsaan di dalam diri banyak ummat Islam.
Sesungguhnya Islam tidak menafikan kehadiran bangsa dalam kehidupan ummat manusia.

Hadirnya aneka jenis bangsa adalah suatu keniscayaan dalam realitas sosial masyarakat dunia. Al-Qur’an mengakui kenyataan ini.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ta’aala ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah ta’aala Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat ayat 13)
Namun Islam tidak pernah memandang bahwa mulia-hinanya seseorang atau sekelompok orang ditentukan oleh faktor bangsa. Lain halnya dengan urusan taqwa dan aqidah. Islam sangat peduli dengan beriman-tidaknya seseorang atau sekelompok orang. Suatu masyarakat yang terdiri atas kumpulan orang-orang beriman dipandang sebagai masyarakat yang mulia di mata Allah ta’aala. Sedangkan masyarakat yang ingkar alias kafir adalah masyarakat yang hina di mata Allah ta’aala, betapapun secara material dan teknologi ia merupakan masyarakat maju.
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh keni’matan di sisi Tuhannya. Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS Al-Qolam ayat 34-36)
Khilafah Islamiyyah merupakan tatanan kehidupan bernegara ummat Islam yang mempersatukan segenap kaum muslimin dari ujung timur hingga ujung barat bumi Allah ta’aala. Penghayatan siapa yang menjadi in-group atau out-group ummat adalah aqidah Islamiyah. Sedangkan dalam kehidupan Negara Kebangsaan maka siapa yang dianggap sebagai in-group bangsa adalah siapapun, apapun keyakinan dan agamanya, asalkan ia sebangsa dan setanah-air, maka ia dianggap sebagai saudara sebangsa. Siapapun yang di luar negaranya dan bangsanya dianggap sebagai out-group kendati ia memiliki aqidah Islamiyyah yang serupa dengan aqidahnya.
Maka wajarlah bilamana seorang Muslim yang menerima dengan sukarela apalagi dengan sungguh-sungguh faham Nasionalisme akan cenderung menjadi sulit menampilkan ideologi Islam sebagai identitas pertama dan utamanya. Ia akan cenderung mendegradasikan identitas Islamnya demi menjaga persatuan dan kesatuan dengan sesama ”anak bangsa” yang beraneka ragam latar belakang keyakinan dan agama. Dan orang seperti ini akan sulit untuk bisa memandang kaum muslimin di luar bangsanya sebagai saudara seiman yang harus lebih dia utamakan daripada saudara sebangsa dan setanah-airnya.
Padahal ketika sudah masuk liang lahat malaikat samasekali tidak akan menanyakan soal identitas bangsa jenazah. Tetapi jelas ia akan ditanya soal identitas agamanya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:
فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِيَ الْإِسْلَامُ
”Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya, datang dua malaikat bertanya:”Siapa rabbmu?” Dia menjawab:”Rabbku Allah”, lalu :”Apa diin(agama)-mu?” Dia jawab:”Diin-ku Islam.” (HR Ahmad)
Ya. Allah, jadikanlah kami benar-benar ridha akan Islam sebagai agama, identitas dan ideologi kami tanpa perlu di embel-embeli dengan identitas dan ideologi lainnya. Ya Allah, kami yakin bahwa ajaranMu sudah sempurna dan lengkap.
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا
“Aku ridha Allah sebagai Rabbku, Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai Rasul dan Islam sebagai Agama.” (Eramuslim, 10/12/08)


Minggu, 21 Desember 2008

Sekapur Sirih ORIMIK

Shalahuddin Al Ayubi adalah salah seorang muslim yang lahir dari suku Kurdi. Salah satu suku yang tidak diperhitungkan dikancah internasional, karena kerendahan taraf berfikirnya sehingga menimbulkan tatanan kehidupan yang tidak tidak pernah maju.

Dasyatnya !!!Shalahuddin Al-Ayubi mampu menyatukan umat Islam pada abad 12 H di benua Afrika, Asia, Eropa Timur dan seluruh negeri muslim dalam satu tatanan pemerintahan yang teratur yang sebelumnya pernah keluar dari Daulah Islam di abad 11 H.

Umat Islam pernah mengalami kemorosotan prestasi di bidang politik, pendidikan, sosial, ekonomi...Pada bidang sosial, masyarakat Islam saat itu terpecah menjadi beberapa kubu atas nama mazhab antara lain Mazhab Syafi’i, Mazhab Hambali, Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, dll. Perpecahan ini berdampak pada pembunuhan pada jama’ah masing-masing mazhab yang berbeda. Pada bidang pendidikan, masyarakat Islam mengalami taraf berpikir yang rendah sehingga mengakibatkan melemahnya peradaban Islam saat itu. Akibat dari kemunduran umat Islam saat itu, kaum Salibis akhirnya dapat merebut tanah Palestina di tahun ± 1090 H.




Muncul upaya untuk membangkitkan kembali peradaban Islam yang mulia. Beberapa pemuka agama Islam saat itu menganalisis, bahwa kemunduran umat Islam adalah dikarenakan politik yang tidak kondusif. Mulailah dikontruksi ulang percaturan politik umat Islam, tapi tidak memberikan penyelesaian di tengah-tengah masyarakat. Setelah diteliti secara mendalam, ternyata persoalan politik hanyalah akibat-akibat yang muncul dari suatu sebab. Karena sebab inilah yang akan melahirkan cabang-cabang akibat. Imam Ghazali menilai, bahwa sebab kemunduran Umat Islam saat itu dikarenakan taraf pemikiran Umat Islam yang rendah. Syaikh Abdul Qadir Jailani menyambut pernyataan Imam Ghazali secara positif. Hal ini, menjadi suatu gerakan yang masif untuk membangkitkan kembali peradaban Islam dengan cara menulis banyak buku, memberikan pengajaran-pengajaran kepada umat, dan banyak mendirikan madrasah-madrasah untuk membangun kesadaran pemikiran umat Islam.

Setelah beberapa tahun lamanya Umat Islam di tarbiyah secara insentif dari madrasah-madrasah dan kajian-kajian ilmu yang dipelopori oleh Imam Ghazali, lahir seorang Panglima Perang Umat Islam dari Suku Kurdi, namanya Shalahuddin Al-Ayubi. Pada tahun ± 1100 H, Khalifah saat itu bernama Nuruddin Zanki memberikan tugas kepada sang Panglima Perang Shalahuddin Al Ayubi untuk membebaskan Tanah Palestina dari Kaum Salibis. Peperangan itu dimenangkan oleh kaum Muslimin dan mampu merebut Tanah Palestina ke pangkuan kesatuan umat Islam.

Butuh perjuangan yang panjang dalam tarbiyah untuk membangkitkan pemikiran umat Islam. Pada tahun 1090 H, Palestina direbut oleh Kaum Salibis karena kelemahan umat Islam dalam taraf berfikir sangat rendah. Upaya untuk mebangkitkan kembali umat Islam melalui tarbiyah memakan waktu yang sangat panjang, membutuhkan waktu hampir kurang dari 1 abad sehingga memperoleh prestasi yang luar biasa dengan menaklukan kaum Salibis dan mengembalikan tanah Palestina ke pangkuan Umat Islam.

Keadaan kelam sejarah umat Islam tak jauh beda dengan keadaan sekarang, dimana umat Islam harga dirinya diinjak-injak, Rasulullah SAW di hina berulang kali, di jajah secara ekonomi, politik, sosial , bahkan negeri-negeri yang ditempati mayoritas Umat Islam di nobatkan sebagai negara ketiga. Label dunia ketiga merupakan label yang sangat tidak diperhitungkan di kancah politik internasional. Dan hal yang sama terjadi di sejarah, yaitu Tanah Palestina direbut oleh Kaum Yahudi. Umat Islam hanya bisa pasrah menerima keadaan sekarang. Umat Islam hanya bisa berapologi defensif, ketika diserang pemikiran bahwa hukum umat Islam melanggar HAM, tidak berpihak ke kesetaraan gender, Islam adalah agama teror yang memerintahkan jihad, Islam adalah agama yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini, mengakibatkan Umat Islam latah dalam mengikuti ide-ide dari asing berupa sekularisme, liberalime, pluralisme, demokrasi, feminisme, jihad adalah bentuk defensif, HAM, dll. Umat Islam hanya bisa inferior menilik kembali sejarah Umat Islam yang mengalami kejayaan yang luar biasa.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Tanah Palestina akan dibebaskan dua kali oleh Umat Islam. Tidak bisa dipungkiri, bahwa setiap perkataan Rasulullah adalah benar adanya. Maka pertanyaan yang pantas di tembak ke hati setiap muslim adalah pilihan bagi kaum Muslimin untuk terlibat dalam pembebasan tanah Palestina atau sekedar menjadi penonton menunggu datangnya kemengan kaum Muslimin.

Bagaimana mewujudkan misi tersebut???
Saat ini, Kaum muslimin sama halnya dengan sejarah kelam masa lalu, bahwa kaum muslimin mengalami kemunduran dalam taraf berfikir. Oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia.

Umat Islam saat ini telah kehilangan visinya. Apa visi umat Islam sebenarnya. Rasulullah SAW bersabda : Aku di utus Allah SWT untuk menegakkan kalimat tauhid dengan pedang.Visi umat Islam adalah mengambil peran dalam mengatur percaturan internasional. Ketika umat Islam tidak mempunyai visi dalam mengemban risalah dan dakwah maka umat Islam akan mengalami stagnasi atau malah kemunduran. Padahal kenyataannya, Rasulullah SAW bersabda : Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.

Umat Islam telah kehilangan semangat untuk mengemban risalah menjadi negara Superpower. Hal ini juga terjadi ketika Turki Utsmani menjadi khalifah saat itu. Khalifah menghentikan jihad, sehingga yang terjadi adalah membuat lemah intern umat Islam karena disibukkan dengan masalah internal umat Islam. Kehilangan visi ini membuat mata penjajah makin terbuka untuk menjatuhkan Daulah Khilah Turki Utsmani.

Parahnya !!! Ketika umat Islam tidak mempunyai visi,sekarang ini umat Islam malah menjadi pembebet visi orang lain. Salah satu visi penjajah kaum muslimin yang sekarang diterapkan di hampir seluruh negeri Islam adalah memperjuangkan demokrasi sebagai landasan politik untuk mengurusi kebijakan masyarakat. Visi Demokrasi digaungkan besar-besaran oleh Amerika, dan disambut positif oleh hampir negeri muslim. Dan diperparah lagi dengan ulama-ulama Islam yang latah dalam berfatwa, bahwa Islam juga menganut paham demokrasi.

Makanya tak heran, jika kita melihat Presiden SBY mendapat penghargaan Medali Demokrasi dari Internasional Association of Political Consultant (IAPC) karena keberhasilannya sebagai pelaksana sistem demokrasi sebagai contoh di negara-negara Asia. Tapi kenyataannya, Demokrasi tak semanis kampanyenya, Realitas Demokrasi di Indonesia tak seiring dengan peningkatan kesejahteraan malah membuat duka yang sangat mendalam bagi rakyat Indonesia. Disaat pejabat eksekutif dan legislatif menghabiskan uang rakyat dengan meminta menaikkan gaji mereka, rapat di gedung mewah, kekuasaan jadi ladang empuk untuk meraih kepentingan sebanyak-banyaknya, korupsi menjadi proyek penjahat-penjahat pemerintah. Ironisnya!!! Mayoritas masyarakatnya hidup sengsara, penduduknya kelaparan, harga kebutuhan pokok naik, kekayaaan hanya diistimewakan oleh segelintir orang saja dan ini membuat kesenjangan miskin dan kaya sangat jemplang.

Visi yang digaungkan Amerika atau barat hanya akan membuat peradaban mereka, dan sebaliknya bagi para negara pembebet yang ditipu akan menuai hasil yang tak semanis kampanyenya. Makanya, tidak ada yang bisa diharap dari negeri ini jika masih saja menjadi pembebet visi negara lain, tidak akan ada kemajuan, nonsense kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat, kemunduran politik negeri.

Keadaan ini diperparah lagi oleh para pemuda dan masyarakat yang individualistis. Visi kebanyakan pemuda dan masyarakat sekarang adalah sekolah, kuliah dengan IP yang tinggi, lalu kerja, dan akhirnya nikah. Visi ini atau pandangan kehidupan ini dianalogikan seperti layaknya kehidupan binatang, dimana mereka disibukkan oleh urusan perut dan urusan dibawah sedikit perut. Ironis memang, ketika kebanyakan pemuda disibukkan oleh urusan individu dan menafikan realitas sosial sekarang yang bobrok.

Dalam kumpulan-kumpulan individu dalam suatu wilayah ini adalah negara Indonesia. Ketika Rasul umat Islam dihina berkali-kali, Agama Islam dilecehkan oleh barat pemimpin negeri ini mencari jalan yang paling aman dan selamat yaitu hanya berani mengecam di negerinya sendiri bukannya melawan. Hal ini bertolak belakang dengan sejarah Umat Islam masa lalu, ketika Perancis dan Inggris ingin menayangkan film yang berisi penghinaan terhadap Nabi Umat Islam. Khalifah melayang surat untuk menghentikan penayangan film itu, atau akan dikerahkan pasukan jihad ke negara barat tersebut. Sikap seperti inilah yang harus di miliki umat Islam. Sikap umat Islam harus menggetarkan, jangan hanyanya mencari jalan paling aman.

Sejarahnya Umat Islam adalah memang pernah mengalami kejayaan. Berkali-kali umat Islam memenangkan peperangan dan menunjukkan kekuatannya ketika dihina. Hal ini dibenarkan oleh Napoleon Bonaparte dan pemikir-pemikir barat lainnya, bahwa umat Islam tidak bisa dijatuhkan dalam suatu kekuatan bersenjata karena umat Islam pada dasarnya memang merindukan syahid. Oleh karena itu, mereka menganalisis bahwa Umat Islam hanya bisa dikalahkan jika Umat Islam diserang pemikirannya dengan pemikiran yang sekuler. Artinya disini secara fisik mereka adalah Islam tetapi hati, pemikiran, perasaan, dan perlakuan mereka tidak Islami. Karena tidak mungkin Umat Islam mau disuruh untuk murtad.

Dari hasil analisis pemikir-pemikir barat, Napoleon Bonaparte mencoba menyerang Mesir dengan mengirimkan dua buah kapal. Kapal pertama berisi pemikir-pemikir barat yang telah mengetahui seluk-beluk tentang Islam untuk menyerang umat Islam secara pemikiran. Kapal kedua berisi serdadu perang untuk menyerang Umat Islam secara fisik. Akhirnya Napoleon Bonaparte dapat menaklukkan Mesir, dan dapat memetakan pemikiran Umat Islam. Kejadian ini berujung pada pemisahan Mesir dari Kesatuan Daulah Khilafah Islamiyah.

Pemikir-pemikir barat inilah yang telah mempelajari Islam untuk menghancurkan Islam secara pemikiran. Kaum inilah yang disebut orientalisme yang mengawali kolonialisme di tengah-tengah masyarakat Islam. Mereka bisa membodohi Umat Islam untuk membenarkan keraguan dan meragukan kebenaran. Mengapa umat Islam bisa dibodohi oleh kaum orientalisme ini, karena Umat Islam mengalami taraf berfikir yang rendah..

Oleh karena itu, Imam Ghazali membangun kesadaran yang sama pada masyarakat Islam bahwa umat Islam harus ditarbiyah agar membangkitkan pemikirannya.

Keadaan Umat Islam sekarang tidak jauh berbeda dengan sejarah masa lalu. Umat Islam tidak bisa membedakan mana pemikiran Islam dan mana pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Demokrasi, SIPILIS, HAM dibenarkan oleh ulama. Agar memberikan kesan bahwa Islam sesuai dengan kemajuan zaman, umat Islam bisa mengikuti kemajuan peradaban barat.

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhabi seorang ulama jenius dari Palestina mencoba untuk mengurai benang masalah umat, bahwa umat Islam harus dibangkitkan pemikirannya. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhabi mendirikan Hizbut Tahrir untuk menjadi partai politik Islam untuk memberikan kesadaran politik bagi umat secara kolektiv. Hizbut Tahrir berupaya untuk memberikan edukasi politik dengan cara dakwah fikriyah.

























































































Senin, 16 Juni 2008

Gerakan Yok Berubah II

Permasalahannya adalah apakah ketika masalah dibuat oleh pemerintah yang terus menimpakan masalahnya pada masyarakat, apakah kita harus bersabar terus-menerus...Masalah ini bukan diciptakan karena personal2 yang buruk. Tapi sudah berakar pada sistem yg zhalim.
Kata teman Ilham, beda orang miskin dulu dan sekaranng adalah orang miskin dulu sifatnya sabar. Kalo orang miskin sekrang lebih SANGAT sabar...hehEhe. itu candaan salah seorang teman penulis . Analisis teman tadi, mungkin lahir pada realitas ulama2 kita yang menutup mata saat krisis sosial atau seseorang semakin tidak tahu bagaimana keluar dari beban persoalan maka agama kemudian memberi pesan untuk berpaling ke diri sendiri untuk bisa menyiram rohani. Ringkasnya pesan agama yang “menerima, mensyukuri dan memahami realitas”.

Realitas sosial diatas adalah untuk membuka mata hati dan memberikan kesadaran bahwa jika kita sibuk berdiam terus berdiam diri dan trur disibukkan dengan kehidupan sendiri( hukum2 privat saja, melupakan hukum publik) maka kita telah melanggengkan tatanan social kapitalis yg bobrok ini… Permasalahnya bukanlah pada ekonomi kita miskin atau pengangguran yang betompok, tapi pada tidak diterapkanya hukum2 Islam yang mengatur masyarakat.
Makanya tidak ada pilihan lain untuk berpindah ke tatanan system alternatif yaitu dengan kehidupan Islam atau sosialis(eh, salah)…bagaimana Islam mengatur ekonomi, pemerintahan, hukum, social dan bagaimana ideology sosialis juga mengatur kehidupan masyarakat..



Dalam hal ini, penulis berbicara masalah ekonomi dari sisi ideologis masing2…

Ideologi Kapitalis memberikan kebebasan kepada individu2 untuk memiliki hak akses terhadap kekayaan dunia…Negara hanya memfasilitasi undang2 dan sebagai pengatur berjalannya ekonomi sesuai dengan mekanisme yg ditetapkan…


Apa yg terjadi, ketika ekonomi ini diterapkan???Memang percepatan pertumbuhan ekonomi yg diperlihatkan oleh kapitalis adalah sangat mengagumkan, namun dilihat dari sisi distribusi, prestasi kapitalis dalam menimbulkan kesenjangan ekonomi lebih mengagumkan lagi. Efek kapitalis sangat menimbulkan kekacauan dalam tatanan kehidupan dunia sekarang. Negara di bagi menjadi kelas Negara maju, Negara berkembang, dan Negara miskin…Masyarakat terbagi menjadi kelas kaya, menengah, dan miskin…
Kalo ana ibaratkan Negara maju sekali, negara berkembang, dan negara sangat miskin...

Jika kita melihat dari pendapatan ekonomi masing2 negara adalah terjadi kesenjangan yg sangat jauh antara Negara maju dan Negara miskin. Pd tahun 1970-1980, GNP Ril di Negara miskin $ 17, Negara berkembang $ 624, Negara maju $2117. Data ini dikutip dari, UNCTAD bahwa perbandingan kekayaan antara Negara maju dan miskin th 1990 menjadi 1 : 52… apalagi sekarang behhhh

Dalam system kapitalis, individu diberi kebebasan brelomba2 untuk memperoleh kekayaan…

Misal di Analogikan seperti ini…..

MIsal 1 buah keranjang berisi kue adalah seluruh kekayaan dunia… dan seluruh manusia di dunia berlomba2 dlm mengambil kue dalam 1 keranjang…
Dapat kita pastikan!!!Pasti ada yg dapat banyak sekali, sedikit, dan tidak dapat sama sekali.
Siapa yg mendapatkan kue paling banyak, yaitu org yg memiliki kekuatan…


HUKUM yg berlaku sekarang terhadap ekonomi adalah siapa saja yg mempunyai kekuatan dalam hal ini adalah modal, jaringan, dll akan dengan mudah mendapatkan kekayaannya…

Timbulnya dominasi2 org2 kaya adalah krn individu2 menguasai asset umum. Siapa yg bisa menguasai asset ini, yg punya kekuatan ..modal

Lain halnya dengan sosialis, kepemilikan harta semuanya dikelola oleh Negara. Jadi disini terjadi prinsip persamaan..sama rasa, karya, cipta..
Tp, hal ini malah akan menimbulkan kemunduran produksi…krn pada hakikatnya manusia punya keinginan dalam memenuhi hajatnya semaksimal mungkin…krn disini ada batasan kepemilikan….Panjang sekali, tanyak kawan ilham aja yeeee!!!abis capek nulis nih.

Dalam Islam kekayaan di bagi menjadi 3 macam, yaitu kekayaan yg boleh diakses individu, kekayaan yg dikelola utk umum, dan kekayaan utk Negara…
Kekayaan individu dapat berupa ajir atau upah/gaji, perdagangan, pertanian, waris Pemberian daulah dll. Kekayaan yg dikelola utk umum berupa kekayaan yg secara hajat dibutuhkan oleh org banyak seperti telekomunikasi, barang tambang, SDA, Transportasi, Air, listrik,sector publik dll. Sedangkan kekayaan Negara diperoleh dari khazraj, jizyah, fa’I, dll…

Konsep pemikiran ekonomi makro Islam ini bukan lah ciptaan manusia, melainkan wahyu dari ALLAH SWT lewat sebuah hadist Rasulullah SAW ; Manusia berserikat dalam hal Udara, Air, dan Api. (HR. Abu Dawud, Ahmad, AnNasa;i). Ini artinya sesuai dengan pasal 34 UUD 45. Air, udara, hutan dan barang2 yang menyangkut hajat hidup orang banyak milik masyarakat yg dikelola oleh negara dan dikembalikan ke masyarakat. Blok CEPU padahal ahli geologi dan Pertamina mampu mengelolanya...kok diserahkan ke asing. Ladang minyak di negeri sendiri, anehnya pas naik harga BBM. Bukannya negeri ini untung, malah jadi buntung. Rakyat menanggung beban.

Anehnya,... partai2 Islam mungkin khilaf ya??? .masa setuju BUMN, sumber daya alam di jual!!!

Nah, dalam hal ini jelas konsep kepemilikan Islam lebih adil.. Bahkan rector Trisakti yang sekarang dan banyak cendikiawan lain pernah mengungkap kejujurannya terhdap keunggulan konsep Islam.

Konsep atau ide2 Islam unggul, karena ini merupakan wahyu dari Zat Yg Maha Pencipta, Zat yg Maha besar...

Makanya, mari kita optimis dan menyambut kemenangan Islam dengan langkah2 nyata yg jelas....Merubah tatanan kehidupan yg sekuler menjadi tatanan kehidupan yg bersyari’at Islam...

Prof. DR. Quraish Shihab pernah memberikan pertanyaan???
Katanya Islam diturunkan sebagai rahmatallil’alamin…
Tp, kok rahmat itu tidak terasa sebagai rahmat seluruh alam…

Patut kita bertanya.Kenapa???
Jawabnya adalah Islam tidak dilaksanakan secara menyeluruh. Islam hanya diterapkan pd tataran individu. Pada tataran social, seluruh masyarakat dunia mengambil hukum2 buatan manusia. System uqubat yg digunakan adalah penjara. System kepemilikan umum di akses oleh individu. Sistem ekonomi yg digunakan adalah ribawi. Sistem kehidupan digunakan sekulerisme.

Selama ini, kita dijejalkan bahwa Islam adalah agama yang kaffah dan universal. Tapi, realitasnya politik, ekonomi, sosial, dan aspek2 publik lainnya adalah bukan ajaran Islam. Hanya wilayah privat saja yg kita terapkan. Oleh karenanya, Islam hanya diemban oleh individu2 dan keluarga2 saja.

Oh ya... Selama ini kita takjub pada pribadi2 pejuang Islam seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Ali Thalib, Utsmab Bin Affan, Umar bin Abdul Aziz,dll...Satu contoh. Ketika kita membaca shiroh Khalifah Umar bin Abdul Aziz memakmurkan rakyatnya dan tidak ada satu pun rakyatnya yang menjadi muzakki, karena rakyatnya semua sejahtera. Begitu pula dengan Panglima Thariq bin Ziyad. Pertanyaannya, apakah mereka mampu sendirian membangun kejayaannya ???tentu tidak kan!!! Mungkin kesalahan kita membaca sejarah adalah kita terlampau kagum pada subyek2 pelaku kesuksesan, tapi lupa dengan struktur pembangun kejayaannya. Adapun strukturnya adalah diterapkannya Islam sebagai institusi pemerintahan, yaitu Islam Kaffah.

Sudah saatnya, gerakan Islam berubah !!! Sudah saatnya umat Islam PD menyampaikan ajaran Islam yang kaffah. Sudah saatnya memberikan dakwah yang mencerdaskan masyarakat. Masyarakat siap menerima syari’at, kalo kita jelaskan...

Saya tidak memprovokasi untuk masuk kejamaah tertentu, tapi bagaimana seluruh parpol Islam dengan warna yang berbeda, mengusung ide2 yang sama dalam rangka meraih ridha Allah SWT. Partai2 Islam dengan metode yang berbeda, mengusung kejayaan umat. Partai2 Islam berdakwah dengan memberikan pencerahan dan kecerdasan pada umatnya. Pilihan2 metode masuk kesistem atau diluar sistem adalah pilihan yang mubah. Lewat pendidikan, tabligh, tulisan, dll. Fokus tujuannya adalah menyuarakan syari’at Islam. Berani menyuarakan syariat Islam.

Saatnya Gerakan Islam Kaffah muncul ditengah2 mayarakat dan mencerdaskannya hingga masyarakat menerima Syari’at Islam.

Dan akhirnya !!! InsyaAllah Islam Jaya.mudah2an Allah SWT merihdainya !!!

Jumat, 06 Juni 2008

GERAKAN ISLAM, YOK BERUBAH !!!

Gerakan Islam berupa berupa bangunan sosialnya telah dirontokkan oleh sebuah Negara. Di masa Soeharto, gerakan Islam tidak diperkenankan untuk membangun kekuatan politik dan hanya diberi porsi untuk menjalankan fungsi agama yang simbolik. Fungsi gerakan Islam hanya menjadi layanan rohani bagi publik. Fakta ini dapat dilihat pada naiknya kebutuhan pokok masyarakat, kriminalitas, kemiskinan, pengangguran maka ulama-ulama hanya bisa memberikan kesadaran rohani untuk bersabar menghadapi cobaan ini.

Ketika Soeharto telah ditumbangkan, keadaan gerakan Islam tidak jauh berbeda jika dilihat secara realitasnya adalah sebatas gerakan ritual saja. Ibadah2 maghdah berupa zikir, tilawah, shalat, puasa, haji mampu mengkondisikan kepuasan spiritual jiwa,tapi tidak mampu menyelesaikan realitas sosial yang begitu memprihatinkan. Fungsi agama sebagai kontrol dan mengatur masyarakat dalam tatanan yang Islami telah dibuang semua fungsinya. Semangat pembebasan telah mencuci agama dari wilayah-wilayah sosialnya yang hanya menjadi sekedar pemuas kepentingan-kepentingan praktis individu. Islam telah direduksi menjadi wilayah privat saja, itulah kenyataan saat ini.

Di ranah politik, seorang sosiolog Eropa dalam studinya tentang agama menunjukkan dengan gamblang bahawa agama memang berbeda dengan politik. Namun demikian, dalam hal kekuasaan kedua-duanya sering berhubungan akrab dan memperlihatkan kekerabatan yang erat. Setiap kekuasaan politik selalu tergoda untuk memperluas wilayah kekuasaanya dalam lingkungan agama. Sebaliknya, setiap kekuasaan agama mengalami godaan yang sama untuk memperluas wilayah kekuasaanya di bidang politik.



Selaras dengan pendapat diatas, bahwa Al-Marhumah Nurcholis Madjid pernah menulis buku “Islam Yes, Partai Islam NO”. Sebenarnya, buku ini juga mengusik hati kita untuk mencoba untuk berfikir kritis pada ranah Islam dalam percaturan politik. Kenyataan yang dilihat oleh penulis adalah, ketika partai Islam menjaring massa Islam untuk memperoleh kekuasaan tetapi slogan-slogan dan ide-ide Islam tidak pernah tampak di tampuk legislatif, eksekutif, maupun yudikatif ...

Pertanyaannya ???Apa bedanya partai2 Islam dan partai dengan ideologi lainnya, jika mengusung visi yang sama yaitu kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, pendidikan dan kesehatan yang terjamin...Apakah partai Islam pernah membawa-bawa dalil agama sebagai landasan untuk mengusung sebuah ide??? Jikapun pernah, jawaban yang bisa diterka adalah “ Jangan bawa-bawa agama dalam masalah Politik bung !!!”. Maka tidak bisa tidak asas dan landasan yang dibawa oleh partai Islam di ranah politik praktis saat ini adalah mengambil kemashalatan bersama dengan asas yang tidak sama sekali mengutip Islam dalam mengambil pendapat.


Terlampau tega jika gerakan Islam dibiarkan untuk tidak bersentuhan dengan realitas juga telah mengkarantina agama hanya sebatas siraman rohani saja. Islam telah direduksi secara waktu menjadi wilayah privat saja. Kondisi ini juga timbul jika ketika seseorang beragama percaya kalau arah menuju Tuhan menghendaki untuk lari dari problem-problem kehidupan dan konflik sejarah.

Faktanya tatanan sosial sekarang adalah tatkala masyarakat mati kedinginan di pinggir jalan, anak SD bunuh diri ketika ortu mereka tdk bisa membayar SPP, seorang ibu bunuh diri bersama anak2nya krn himpitan ekonomi, pengangguran yg terus meningkat, kekayaan hanya dinikmati oleh beberapa orang saja sementara mayoritas penduduk hidup dibawah garis kemiskinan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, papan sulit. Di seberang sana di senayan, atau di Istana, atau di gedung parlemen begitu mudah mereka minta di naikkan gaji mereka, kunjungan keluar negeri berkali2 dg membawa keluarga mereka, minta direnovasi rumah mereka, tidak mau di kritik tapi malah menasehati bahwa rakyat harusnya tau diri..(mereka pikir, rakyat bodoh2 sehingga mereka merasa paling benar dan anti kritik), asset-aset sumber daya alam yang milik rakyat diserahkan satu persatu oleh negara ini. Harusnya, mata kita terbuka melihat tatanan social yang rusak ini. Jd org miskin itu bukan hanya dilihat dari faktor orang yg tidak bisa berkompetisi di kehidupan, tp juga dimiskinkan oleh sistem. Hal ini dibenarkan oleh Eko Prasetyo dlm bukunya org miskin dilarang sakit dan masuk sekolah. (eko p)

Jumlah masyarakat miskin kian hari kian membengkak, jika kita menggunakan standar Bank Dunia. Menurut data terakhir, mencapai di atas 100 juta jiwa, setara dengan 49,5 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai 232,9 juta pada 2007 dan 236,4 juta pada 2008.

Mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli memperkirakan, angka kemiskinan dan pengangguran tahun 2008 ini akan terus meningkat. Wakil Sekjen Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryono Darudono mengatakan, 2007 lalu angka penganguran sudah lebih dari 40 juta orang. Jumlah ini menjadi ancaman bagi ASEAN, karena kontribusi angka penganguran Indonesia mencapai 60 persen.

Permasalahannya adalah apakah ketika masalah dibuat oleh pemerintah yang terus menimpakan masalahnya pada masyarakat, apakah kita harus bersabar terus-menerus...Masalah ini bukan diciptakan karena personal2 yang buruk. Tapi sudah berakar pada sistem yg zhalim.

Teman penulis pernah berkata, beda orang miskin dulu dan sekaranng adalah orang miskin dulu sifatnya sabar. Kalo orang miskin sekrang lebih SANGAT sabar...hehEhe. itu candaan teman ilham. Analisis teman tadi, mungkin lahir pada realitas ulama2 kita yang menutup mata saat krisis sosial atau seseorang semakin tidak tahu bagaimana keluar dari beban persoalan maka agama kemudian memberi pesan untuk berpaling ke diri sendiri untuk bisa menyiram rohani. Ringkasnya pesan agama yang “menerima, mensyukuri dan memahami realitas”.

Realitas sosial diatas adalah untuk membuka mata hati dan memberikan kesadaran bahwa jika kita sibuk berdiam terus berdiam diri dan trur disibukkan dengan kehidupan sendiri( hukum2 privat saja, melupakan hukum publik) maka kita telah melanggengkan tatanan sosial kapitalis yg bobrok ini… Permasalahnya bukanlah pada ekonomi kita miskin atau pengangguran yang betompok, tapi pada tidak diterapkanya hukum2 Islam yang mengatur masyarakat.

Bersambung ...

Selasa, 03 Juni 2008

Proyek Pemikiran dan Politik Orientalis, Missionaris dan Kolonialis (ORIMIK) II

Oleh karena itu, proyek-proyek pemikiran barat harus dibuka secara lebar-lebar dan dibongkar dengan segala macam yang merusak kita. Karena ini adalah sesuatu yang baru, maka hal ini tidak nampak dan seringkali diremehkan.

Memahami Model Pembelajaran Pemikiran Barat

Orientalisme pada masa lalu sampai sekarang ini begitu gigih belajar pemikiran Islam agar mengetahui titik lemah Islam. Mereka mempelajari bahasa arab, Islam, fikih, dan lain sebagainya tak lain mempunyai misi yang merusak Islam.

Ingat kisah Napoleon Bonaparte yang mengirim 2 buah pasukan kapal untuk memerangi mesir. Ya !!! Napoleon mengirim satu buah kapal berisi tentara dan satu buah kapal berisi pemikir-pemikir intelektual. Pertanyaannya ??? Ada apa dengan pengiriman pemikir-pemikir tersebut ke Mesir? Kenapa tidak dikirim 2 buah pasukan kapal yang berisi seluruh tentara perang??? –jawabannya ada di artikel sebelumnya tentang ORIMIK.

Saat ini, di Indonesia berdiri NAMRU yang merupakan badan intelijen asing berkedok riset yang terletak di Jakarta.. Dan anehnya, mereka tidak meminta apapun kepada pemerintah Indonesia. Mereka hanya meminta kekebalan hukum di Indonesia. Ada apa ini ??? Fahmi Dahlan pernah menyebutkan, bahwa NAMRU adalah kuda Troya Imperialisme.

Jangan pernah kita bersilat lidah, bahwa sekarang ini adalah peradaban yang menolak agama. Otoritas agama tidak boleh dibawa-bawa dalam kehidupan. Dampak dari ini adalah dibawanya Umat Islam ke ide yang merupakan nenek moyangnya sekuler, yakni demokrasi. Bahkan, parahnya!!!Mereka menerimanya dengan antusias. Sepakat dengan demokrasi adalah suatu keberhasilan ORIMIK dalam menjajah kaum muslimin secara pemikiran.



Kondisi fakta melahirkan pemikiran. Jadi, seharusnya umat Muslim wajib merujuk pada wahyu. Menolak wahyu dan menggunakan empiris adalah senafas.

Dalam pemikiran mereka demokrasi wajib di terapkan dalam kehidupan mereka. Karena pada masa sejarah mereka sebelumnya mereka mengalami penindasan , misalnya wanita diam aja dirumah, upeti-upeti yang dibebankan rakyat begitu besar, kaum kerajaan dan pendeta menjadi kaum yang terhormat, menaati tanpa harus tahu konsep tentang trinitas, kekayaan hanya menjadi istimewa pada kaum pendeta dan kaum kerajaan. Dalam hal ini, mereka ditindas secara nyata oleh pemikiran-pemikiran gereja. Ditindas dengan taklid buta untuk patuh sepenuhnya dengan agama mereka.


Pendeta-pendeta menumpuk harta, wanita di kekang kebebasannya, persoalan terhadap trinitas, dan banyak persoalan lainnya adalah masalah-masalah yang akan meledakkan demokrasi sebagai kedaulatan rakyat, sehingga agama tidak boleh menjadi otoritas dalam kehidupan.

Plato mengusung ide ini ke publik dari konteks historis mereka. Jadi pemikiran mereka yakni demokrasi adalah pemikiran lokal. Jadi, dalam hal ini Demokrasi adalah sejarah eropa. Sementara Islam tidak mempunyai masalah terhadap hak-hak wanita, kebebasan yang bersyari’at, apalagi masalah tentang eksistensi Tuhan. Permasalahannya adalah kenapa kita mengambilnya sebagai yang mengatur kehidupan kita.


Mungkin kesalahan kita adalah khilaf dalam mengambil ide-ide diluar Islam tanpa melihat latar belakang sejarahnya. Mengambil pemikiran tanpa mengetahui latar belakanng sosio historisnya adalah keliru.

Memperjuangkan Islam !!!

Kalo ingin mengubah dan memperjuangkan Islam agar diterapkan ditengah-tengah masyarakat maka perlu dibangun tradisi pemikiran. Karena dari situlah, bangkitnya seseorang. Bangkitnya Islam, ketika pengembannya dapat mengetahui secara jelas mana pemikiran Islam dan mana pemikiran kufur.

Sekarang masalah keyakinan, kita mampu menaklukkan tradisi pemikiran-pemikiran Barat. Seperti layaknya pemikir-pemikir Islam seperti :Jabal At-Thariq ,Ibnu Bathutah, Al-khawarizmi, dll...

Memperjuangkannya harus serius, seserius Negara kita dijajah oleh Asing. Ust. Tindyo pernah berkata perusahaan Free Port di Papua begitu serius mereka mengeruk SDA Indonesia di papua. Mereka serius dalam menjajah kita dengan serius terhadap masalah waktu, serius terhadap pengelolaan teknologi dalam eksplorasi, serius dalam menyiapkan UU yang berguna mengokohkan keberadaan mereka di Papua.

Mari kita buka lebar-lebar pemikiran jahat Barat, agar umat sadar bahwa mereka dijajah dengan konspirasi terselubung.AYO!!! Bangkitnya Umat Islam,karena keseriusan pengemban dakwah Islam dalam memperjuangkannya...


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by ArchitecturesDesign.Com Beautiful Architecture Homes