Revolusi atau Reformasi !!!
Reformasi ???
Apa itu reformasi ???
Wah, Saya bukan orang yang ahli dalam mendefinisikan hal ini.
Tapi, bahasa sederhana Saya adalah merubah secara bertahap di cabang-cabang masalah. Nah, Yok kita urai masalah di negeri ini. Masalah yang selalu berulang terus-menerus dari dulu sampai sekarang adalah kriminalitas yang selalu meningkat, KKN, kemiskinan yang bertumpuk, berbarisnya pengangguran, Seks bebas, pendidikan yg mahal, kesehatan yg dikomersialisasikan, penjajahan dari bidang ekonomi, kesehatan, politik, wah panjang sekali kalo ditulis semuanya…Nah !!! inilah mungkin yang ingin dirubah oleh kita para aktivis pejuang. Solusi yang ditawarkan dari setiap permasalahan hanya di identifikasi secara sederhana atau dangkal, makanya tambal sulam masalah yg rutinitas akan tetap terjadi sepanjang tidak merubah asas atau landasan yg menjadikan penyebab lahirnya masalah tersebut.
Mengurai benang masalah masyarakat sama seperti kamek analogikan pohon yang berpenyakit. Yaitu pohon yg tidak bisa berbuah, daunnya penuh ulat, kulitnya kering, daunya mulai mengering. Nah, mulailah kita memberikan perlakuan kepada pohon tersebut agar terbebas dari penyakit-penyakitnya. Di kasi pupuk, diberi air, disemprot herbisida, diberi vitamin, semuanyalah...Apa hasilnya........... Apapun perlakuan kita dlm mengatasi masalah2 pohon diatas adalah mustahil. Karena penyakit-penyakit diatas hanyalah akibat-akibat yg muncul karena ada sumber penyebabnya. Apa penyebab dari timbulnya seluruh penyakit dari pohon tadi. Penyakitnya adalah akar pohon tersebut telah terserang virus... Wah...berabe nih, masalahnya...Perlakuan seharusnya adalah –tidak bisa tidak- ganti pohon dan beserta akar2nya, karena kerusakan ini sudah mengakar(sistemik).
Begitu pula dg realitas kehidupan sekarang, KKN, kemiskinan, hamil di luar nikah, moral yg bejat, pejabat yg haus kekuasaan, adalah hanya akibat-akibat saja dari sumber yg menjadikan lahirnya cabang2 masalah. Perlakuan apapun hanya akan memberikan solusi tambal sulam. Apa sumber penyebab dari akibat-akibat yg muncul, yaitu….
Kita bisa bertanya, persoalan apa yang bisa diselesaikan oleh negara dengan tuntas. Korupsi masih terus terjadi, bahkan menimpa aparat yang seharusnya menegakkan hukum. Tentu saja bukan tanpa alasan kalau sebuah lembaga anti korupsi menyebutkan lembaga penting negara seperti DPR, Kepolisian, dan Lembaga pengadilan justru menjadi tempat subur korupsi. (masih adakan SMS yg menyatakan korupsi tidak bisa di deteksi, dari kejaksaan agung lagi).
Memang, beberapa koruptor dijebloskan ke dalam penjara. Namun, tanpa kacamata siapa pun bisa melihat, di sana ada tebang pilih. Kasus besar seperti BLBI malah dihentikan justru oleh aparat kejaksaan sendiri. Alasannya: tidak terdapat bukti pelanggaran hukum! Sungguh menyedihkan. Padahal BLBI telah menyebabkan negara rugi ratusan triliun rupiah.
Keamanan juga sama. Kita menyaksikan di depan mata bagaimana pembunuhan, pemerkosaan, pencurian dan perampokan terus-menerus terjadi, seakan tidak bisa dicegah (Buser, Sergap terus tayang). Kemiskinan jadi pemandangan yg biase di kote2 besar.
Dalam hal kriminalitas yang terus terjadi, efek yang harus diterima oleh negara adalah dari hari kehari semakin bertambah penghuni penjara. Koran Kedaulatan Rakyat tanggal 17 Mei 2008 menyebutkan bahwa di salah satu kota di Jawa Tengah, tiap harinya keluar 9 orang tahanan dan masuk 30 orang tahanan setiap harinya.Ironis...
Mungkin para elit politik berargumentasi, kita butuh proses, kita baru memasuki era baru, sambil menyalahkan era sebelumnya. Pertanyaannya??? Haruskah rakyat menunggu proses yang demikian lama sementara kematian, sakit,kriminalitas, akses pendidikan yang mahal, kesehatan jd barang mahal dan kelaparan ada di depan mata mereka? (menyedihkan) .Apalagi tidaklah tepat kalau dikatakan kita baru memasuki era baru. Bukankah sejak merdeka sampai sekarang kita sudah menjalankan sistem Kapitalisme. (Artikel saya sebelumnya yg menjelaskan 3 ideologi di dunia)...Artinya, sudah puluhan tahun kita menjalankan sistem ini, tanpa hasil yang menggembirakan. Kalau sudah puluhan tahun kita menjalankan sistem ini , ternyata terus gagal, mengapa harus kita pertahankan?
Di sinilah letak pentingnya kita menilai akar masalah kita selama ini… (jawaban diatas).Inilah biang kehancuran kita selama ini... Siapapun pemimpinnya, tetapi masih dalam sistem yg seperti ini, maka msalah2 dunia dan negeri ini akan tetap berulang lagi...
Sistem social alternatife yang ditawarkan oleh aktivis perjuangan ideologis adalah Khilafah Islamiyah atau Sosialisme… Sosialisme!!! Waaduh, jangan yee... – sebelumnya, saya kirim artikel tentang 3 ideologi.
Point penting dalam penegakan syariah Islam bagi Indonesia adalah untuk meraih keridhaan Allah SWT, dan efek yg ditimbulkan adalah menyelesaikan persoalan kita secara tuntas. Apa yang terjadi sekarang sesungguhnya penyebabnya sudah jelas(AKAR MASALAH DARI TIMBULNYA CABANG2 MASALAH), yaitu sistem Kapitalisme. Apapun solusi yang ditawarkan, yang masih berbasis Kapitalisme, pasti gagal. Karena itu, solusi kita tinggal satu: kembali pada syariah Islam.
Masalah ini, bukan hanya timbul di Indonesia, tapi timbul pada negara2 yg menjadi pengekor ideologi kapitalisme yaitu negara berkembang (mayoritas negara2 berpenduduk muslim). Sedangkan yg menjadi pengemban ideologi kapitalisme adalah negara2 maju. Sedangkan ideologi Sosialisme meskipun JELEK menurut pandangan kita, tapi prestasinya dalam hal menyediakan pendidikan dan kesehatan dan sembako yg gratis adalah luar biasa. Bukankah tugas negara adalah menciptakan kesejahteraan bagi masyarakatnya!!!... (Tp Jangan yg ini...Krn sosialisme menganut ide materialisme yg tidak sesuai dengan fitrah manusia)
Ide Islam sebagai Rahmatallil’alamin
Al-Din merupakan suatu institusi yang memiliki sistimnya sendiri. Dalam kaitannya dengan Islam adalah pengakuan dan kepercayaan terhadap apa yang diturunkan Allah dan mengambilnya sebagai pandangan hidup (manhaj al-hayat). Sedangkan dalam kaitannya dengan agama lain al-Din adalah apa yang dipercayai manusia dan dijadikannya pedoman hidup ilmiyah maupun amaliyah. Jadi tidak salah jika umat Islam menggunakan konsep al-Din untuk memahami agamanya. Dan karena al-Din yang dilabelkan kepada Islam adalah agama yang lurus, al-Din al-Qayyim. ( dari sebuah tulisan “Proyek ‘Pembaharuan’ Pemikiran Islam di Indonesia (Kajian kritis dan evaluatif untuk pemikiran Cak Nur )” oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi M.Phil - seorang pewaris Pesantren Gontor- )
Teman-teman lainnya mungkin menerima dan sepakat dengan ide-ide dan slogan-slogan Syari’aT Islam dan Khilafah.. Permasalahannya, lalu menilai apriori dengan ide ini karena hanya sekedar slogan saja.... Hukum-hukum yang mengatur hukum publik, yang mungkin masyarakat khilaf karena sejarah Islam selalu dikaburkan oleh ORIENTALISME...Ndak ade ajaran Islam yg ngatur publik, itu hanya kepemimpinan Rasul saja (begitu biasenye kate orang2 yg maok mereduksi Islam jadi wilayah privat saja... Padahal kan Islam ngatur kita dalam kehidupan privat dan publik..
Thariqah Perjuangan...
Sebagai muslim, kita harus bisa membedakan mana produk pemikiran yang Islami dan yang tidak. Nah, untuk demokrasi memang adalah sistem kufur. (sudah dibacakan artikelnye). Permasalahan yang panas dari dulu sampai sekarang adalah haram ikut parlemen. Demokrasi adalah kufur. Tapi ketika masuk kedalam sistem dalam rangka untuk memperjuangkan Islam adalah mubah. (Pendapat atau (pake “atau”, sy ndak tau) Fatwa Syaikh Ibnu Taimiyyah, Syaikh M. Siddiq Al Jawy, Abu Yusro, dll (ini saja yg tau), cari di Internet pasti banyak refernsinya). Bahkan syarikah di Yordania pernah masuk didalam parlemen di negeri mereka. Didalam parlemen, mereka menawarkan ide2 dan banyak kebijakan politik Islam. Jawabanya “SAMA” dengan di artikel yang sebelumnya ketika kita masuk di dalam parlemen. Bukan hasil yang ingin diperoleh jama’ah, tapi proses dakwah menuju tegaknya syari’at dan khilafah.
Membentuk parpol, kemudian ikut pemilu, dan tidak terjebak dengan pragmatisme adalah bentuk perjuangan yang jelas. Menyatakan ingin memperjuangkan Syariah dan Khilafah secara berani. Menyatakan menolak pemimpin perempuan secara lugas . Inilah yang semestinya dilakukan parpol di parlemen. Jadi parpol bukan sekedar ikut pemilu, tapi yang disuarakan tetap syariah dan khilafah serta tanpa kompromi dengan hukum kufur dan tidak tercebur adalah mubah hukumnya.
Lewat pendidikan, tabligh, media tulis, media elektronik dll adalah sarana saja dalam memperjuangakn Islam. Tujuan dari semuanya adalah tersebarnya nilai2 Islam di tengah masyarakat. Namun jangan lupa terhadap perjuangan Islam yg kaffah... Islam mengatur hukum publik dan privat... Selama ini, kita hanya menjalankan ibadah privat saja semenjak pemeritahan Islam telah runtuh pada 1924 M....
Hukum2 publik secara kaffah hanya bisa dilaksanakan oleh pemerintahan Islam. Ada teman-teman yang mencoba untuk mempertanggungjawabkan ini dalam bentuk amal nyata. Contohnya : SDA adalah milik masyarakat, khajraz, dll. Nah, tugas ini tidak bisa diemban oleh kelompok bukan !!!. Tugas ini wajib diemban oleh seorang Imam atau Khalifah. Imam/Khalifah adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus. (HR Muslim).
Oleh karena itu, hukum publik secara relevan hanya bisa diterapkan secara kaffah jika pemerintahan Islam tegak... Sistem uqubat (pidana), sistem ekonomi islam, sistem pemerintahan islam, sistem pergaulan islam adalah kewajiban negara dalam mengembannya...Sedangkan hukum2 yg mengatur ibadah maghdah dapat diterapkan oleh individu2 dan kelompok muslim.
Untuk penegakan Syari’at Islam, yang terpenting adalah pencerdasan masyarakat. Masyarakat harus dipahamkan wajib dan pentingnya Khilafah Islam, dan bagaimana Islam memberikan solusi, kemudian diarahkan untuk mau merubah kondisi bangsa ini -yang tidak menerapkan syariah Islam- dengan berdakwah kepada orang lain. Sejarah Nabi Muhammad SAW, ketika mendirikan Negara Islam Madinah terdiri dari beberapa kelompok Islam (± 50 %) ,kelompok Yahudi, Nasrani, atheis, dll. Tapi, ketika Rasulullah SAW mendirikan Negara Islam Madinah, Muslim dan non muslim sama haknya dalam hal perlindungan harta,nyawa,martabat masyarakat Madinah.
Syariah Islam sebagai solusi bukanlah slogan. Ia bisa dipertanggungjawabkan secara ideologis, dan praktis. Ketika masyarakat mau menerima, Islam akan diterapkan secara praktis dan ideologis...Mobilisasi umat Islam yang cerdas,bukan 1 kelompok yang cerdas. Hal ini akan dapat terealisir jika semua kelompok Islam dengan warna2 yg berbeda yang berjuang demi tegaknya Syari’at Islam...
Ust. Yoyok Prassetyo pernah mengibaratkan umat Islam seperti Marching Band. Ada yang memainkan drum, A, B, C, D. (hehe, ndak tau name alatnye). Begitu pula dengan realitasnya, Muhammadiyah dengan pendidikan dan kesehatannya, NU yang lekat dengan kaum tradisionalnya, JT dengan tablighnya, dan seluruh kelompok Islam dengan masing2 komponen perjuanganya mencerdaskan umat Islam dengan perjuangan syari’at Islam secara kaffah untuk mengatur kehidupan bersama".
YOK, .....TEGAKKAN SYARI”AT ISLAM SECARA KAFFAH.
0 komentar:
Posting Komentar