Kamis, 22 Mei 2008

Orientalisme, Sekulerisme, dan Kolonialisme

Menyimak hasil ceramah Ust. Yoyok. T. Prasetyo

Shalahuddin Al Ayubi adalah salah seorang muslim yang lahir dari suku Kurdi. Salah satu suku yang tidak diperhitungkan dikancah internasional, karena kerendahan taraf berfikirnya sehingga menimbulkan tatanan kehidupan yang tidak tidak pernah maju.

Dasyatnya !!!Shalahuddin Al-Ayubi mampu menyatukan umat Islam pada abad 12 H di benua Afrika, Asia, Eropa Timur dan seluruh negeri muslim dalam satu tatanan pemerintahan yang teratur yang sebelumnya pernah keluar dari Daulah Islam di abad 11 H.

Umat Islam pernah mengalami kemorosotan prestasi di bidang politik, pendidikan, sosial, ekonomi...Pada bidang sosial, masyarakat Islam saat itu terpecah menjadi beberapa kubu atas nama mazhab antara lain Mazhab Syafi’i, Mazhab Hambali, Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, dll. Perpecahan ini berdampak pada pembunuhan pada jama’ah masing-masing mazhab yang berbeda. Pada bidang pendidikan, masyarakat Islam mengalami taraf berpikir yang rendah sehingga mengakibatkan melemahnya peradaban Islam saat itu. Akibat dari kemunduran umat Islam saat itu, kaum Salibis akhirnya dapat merebut tanah Palestina di tahun ± 1090 H.




Muncul upaya untuk membangkitkan kembali peradaban Islam yang mulia. Beberapa pemuka agama Islam saat itu menganalisis, bahwa kemunduran umat Islam adalah dikarenakan politik yang tidak kondusif. Mulailah dikontruksi ulang percaturan politik umat Islam, tapi tidak memberikan penyelesaian di tengah-tengah masyarakat. Setelah diteliti secara mendalam, ternyata persoalan politik hanyalah akibat-akibat yang muncul dari suatu sebab. Karena sebab inilah yang akan melahirkan cabang-cabang akibat. Imam Ghazali menilai, bahwa sebab kemunduran Umat Islam saat itu dikarenakan taraf pemikiran Umat Islam yang rendah. Syaikh Abdul Qadir Jailani menyambut pernyataan Imam Ghazali secara positif. Hal ini, menjadi suatu gerakan yang masif untuk membangkitkan kembali peradaban Islam dengan cara menulis banyak buku, memberikan pengajaran-pengajaran kepada umat, dan banyak mendirikan madrasah-madrasah untuk membangun kesadaran pemikiran umat Islam.

Setelah beberapa tahun lamanya Umat Islam di tarbiyah secara insentif dari madrasah-madrasah dan kajian-kajian ilmu yang dipelopori oleh Imam Ghazali, lahir seorang Panglima Perang Umat Islam dari Suku Kurdi, namanya Shalahuddin Al-Ayubi. Pada tahun ± 1100 H, Khalifah saat itu bernama Nuruddin Zanki memberikan tugas kepada sang Panglima Perang Shalahuddin Al Ayubi untuk membebaskan Tanah Palestina dari Kaum Salibis. Peperangan itu dimenangkan oleh kaum Muslimin dan mampu merebut Tanah Palestina ke pangkuan kesatuan umat Islam.

Butuh perjuangan yang panjang dalam tarbiyah untuk membangkitkan pemikiran umat Islam. Pada tahun 1090 H, Palestina direbut oleh Kaum Salibis karena kelemahan umat Islam dalam taraf berfikir sangat rendah. Upaya untuk mebangkitkan kembali umat Islam melalui tarbiyah memakan waktu yang sangat panjang, membutuhkan waktu hampir kurang dari 1 abad sehingga memperoleh prestasi yang luar biasa dengan menaklukan kaum Salibis dan mengembalikan tanah Palestina ke pangkuan Umat Islam.

Keadaan kelam sejarah umat Islam tak jauh beda dengan keadaan sekarang, dimana umat Islam harga dirinya diinjak-injak, Rasulullah SAW di hina berulang kali, di jajah secara ekonomi, politik, sosial , bahkan negeri-negeri yang ditempati mayoritas Umat Islam di nobatkan sebagai negara ketiga. Label dunia ketiga merupakan label yang sangat tidak diperhitungkan di kancah politik internasional. Dan hal yang sama terjadi di sejarah, yaitu Tanah Palestina direbut oleh Kaum Yahudi. Umat Islam hanya bisa pasrah menerima keadaan sekarang. Umat Islam hanya bisa berapologi defensif, ketika diserang pemikiran bahwa hukum umat Islam melanggar HAM, tidak berpihak ke kesetaraan gender, Islam adalah agama teror yang memerintahkan jihad, Islam adalah agama yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini, mengakibatkan Umat Islam latah dalam mengikuti ide-ide dari asing berupa sekularisme, liberalime, pluralisme, demokrasi, feminisme, jihad adalah bentuk defensif, HAM, dll. Umat Islam hanya bisa inferior menilik kembali sejarah Umat Islam yang mengalami kejayaan yang luar biasa.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Tanah Palestina akan dibebaskan dua kali oleh Umat Islam. Tidak bisa dipungkiri, bahwa setiap perkataan Rasulullah adalah benar adanya. Maka pertanyaan yang pantas di tembak ke hati setiap muslim adalah pilihan bagi kaum Muslimin untuk terlibat dalam pembebasan tanah Palestina atau sekedar menjadi penonton menunggu datangnya kemengan kaum Muslimin.

Bagaimana mewujudkan misi tersebut???
Saat ini, Kaum muslimin sama halnya dengan sejarah kelam masa lalu, bahwa kaum muslimin mengalami kemunduran dalam taraf berfikir. Oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia.

Umat Islam saat ini telah kehilangan visinya. Apa visi umat Islam sebenarnya. Rasulullah SAW bersabda : Aku di utus Allah SWT untuk menegakkan kalimat tauhid dengan pedang.Visi umat Islam adalah mengambil peran dalam mengatur percaturan internasional. Ketika umat Islam tidak mempunyai visi dalam mengemban risalah dan dakwah maka umat Islam akan mengalami stagnasi atau malah kemunduran. Padahal kenyataannya, Rasulullah SAW bersabda : Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.

Umat Islam telah kehilangan semangat untuk mengemban risalah menjadi negara Superpower. Hal ini juga terjadi ketika Turki Utsmani menjadi khalifah saat itu. Khalifah menghentikan jihad, sehingga yang terjadi adalah membuat lemah intern umat Islam karena disibukkan dengan masalah internal umat Islam. Kehilangan visi ini membuat mata penjajah makin terbuka untuk menjatuhkan Daulah Khilah Turki Utsmani.

Parahnya !!! Ketika umat Islam tidak mempunyai visi,sekarang ini umat Islam malah menjadi pembebet visi orang lain. Salah satu visi penjajah kaum muslimin yang sekarang diterapkan di hampir seluruh negeri Islam adalah memperjuangkan demokrasi sebagai landasan politik untuk mengurusi kebijakan masyarakat. Visi Demokrasi digaungkan besar-besaran oleh Amerika, dan disambut positif oleh hampir negeri muslim. Dan diperparah lagi dengan ulama-ulama Islam yang latah dalam berfatwa, bahwa Islam juga menganut paham demokrasi.

Makanya tak heran, jika kita melihat Presiden SBY mendapat penghargaan Medali Demokrasi dari Internasional Association of Political Consultant (IAPC) karena keberhasilannya sebagai pelaksana sistem demokrasi sebagai contoh di negara-negara Asia. Tapi kenyataannya, Demokrasi tak semanis kampanyenya, Realitas Demokrasi di Indonesia tak seiring dengan peningkatan kesejahteraan malah membuat duka yang sangat mendalam bagi rakyat Indonesia. Disaat pejabat eksekutif dan legislatif menghabiskan uang rakyat dengan meminta menaikkan gaji mereka, rapat di gedung mewah, kekuasaan jadi ladang empuk untuk meraih kepentingan sebanyak-banyaknya, korupsi menjadi proyek penjahat-penjahat pemerintah. Ironisnya!!! Mayoritas masyarakatnya hidup sengsara, penduduknya kelaparan, harga kebutuhan pokok naik, kekayaaan hanya diistimewakan oleh segelintir orang saja dan ini membuat kesenjangan miskin dan kaya sangat jemplang.

Visi yang digaungkan Amerika atau barat hanya akan membuat peradaban mereka, dan sebaliknya bagi para negara pembebet yang ditipu akan menuai hasil yang tak semanis kampanyenya. Makanya, tidak ada yang bisa diharap dari negeri ini jika masih saja menjadi pembebet visi negara lain, tidak akan ada kemajuan, nonsense kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat, kemunduran politik negeri.

Keadaan ini diperparah lagi oleh para pemuda dan masyarakat yang individualistis. Visi kebanyakan pemuda dan masyarakat sekarang adalah sekolah, kuliah dengan IP yang tinggi, lalu kerja, dan akhirnya nikah. Visi ini atau pandangan kehidupan ini dianalogikan seperti layaknya kehidupan binatang, dimana mereka disibukkan oleh urusan perut dan urusan dibawah sedikit perut. Ironis memang, ketika kebanyakan pemuda disibukkan oleh urusan individu dan menafikan realitas sosial sekarang yang bobrok.

Dalam kumpulan-kumpulan individu dalam suatu wilayah ini adalah negara Indonesia. Ketika Rasul umat Islam dihina berkali-kali, Agama Islam dilecehkan oleh barat pemimpin negeri ini mencari jalan yang paling aman dan selamat yaitu hanya berani mengecam di negerinya sendiri bukannya melawan. Hal ini bertolak belakang dengan sejarah Umat Islam masa lalu, ketika Perancis dan Inggris ingin menayangkan film yang berisi penghinaan terhadap Nabi Umat Islam. Khalifah melayang surat untuk menghentikan penayangan film itu, atau akan dikerahkan pasukan jihad ke negara barat tersebut. Sikap seperti inilah yang harus di miliki umat Islam. Sikap umat Islam harus menggetarkan, jangan hanyanya mencari jalan paling aman.

Sejarahnya Umat Islam adalah memang pernah mengalami kejayaan. Berkali-kali umat Islam memenangkan peperangan dan menunjukkan kekuatannya ketika dihina. Hal ini dibenarkan oleh Napoleon Bonaparte dan pemikir-pemikir barat lainnya, bahwa umat Islam tidak bisa dijatuhkan dalam suatu kekuatan bersenjata karena umat Islam pada dasarnya memang merindukan syahid. Oleh karena itu, mereka menganalisis bahwa Umat Islam hanya bisa dikalahkan jika Umat Islam diserang pemikirannya dengan pemikiran yang sekuler. Artinya disini secara fisik mereka adalah Islam tetapi hati, pemikiran, perasaan, dan perlakuan mereka tidak Islami. Karena tidak mungkin Umat Islam mau disuruh untuk murtad.

Dari hasil analisis pemikir-pemikir barat, Napoleon Bonaparte mencoba menyerang Mesir dengan mengirimkan dua buah kapal. Kapal pertama berisi pemikir-pemikir barat yang telah mengetahui seluk-beluk tentang Islam untuk menyerang umat Islam secara pemikiran. Kapal kedua berisi serdadu perang untuk menyerang Umat Islam secara fisik. Akhirnya Napoleon Bonaparte dapat menaklukkan Mesir, dan dapat memetakan pemikiran Umat Islam. Kejadian ini berujung pada pemisahan Mesir dari Kesatuan Daulah Khilafah Islamiyah.

Pemikir-pemikir barat inilah yang telah mempelajari Islam untuk menghancurkan Islam secara pemikiran. Kaum inilah yang disebut orientalisme yang mengawali kolonialisme di tengah-tengah masyarakat Islam. Mereka bisa membodohi Umat Islam untuk membenarkan keraguan dan meragukan kebenaran. Mengapa umat Islam bisa dibodohi oleh kaum orientalisme ini, karena Umat Islam mengalami taraf berfikir yang rendah..

Oleh karena itu, Imam Ghazali membangun kesadaran yang sama pada masyarakat Islam bahwa umat Islam harus ditarbiyah agar membangkitkan pemikirannya.

Keadaan Umat Islam sekarang tidak jauh berbeda dengan sejarah masa lalu. Umat Islam tidak bisa membedakan mana pemikiran Islam dan mana pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Demokrasi, SIPILIS, HAM dibenarkan oleh ulama. Agar memberikan kesan bahwa Islam sesuai dengan kemajuan zaman, umat Islam bisa mengikuti kemajuan peradaban barat.

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhabi seorang ulama jenius dari Palestina mencoba untuk mengurai benang masalah umat, bahwa umat Islam harus dibangkitkan pemikirannya. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhabi mendirikan Hizbut Tahrir untuk menjadi partai politik Islam untuk memberikan kesadaran politik bagi umat secara kolektiv. Hizbut Tahrir berupaya untuk memberikan edukasi politik dengan cara dakwah fikriyah.

0 komentar:


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by ArchitecturesDesign.Com Beautiful Architecture Homes